Garuda Indonesia
 

Setelah melewati tahapan seleksi yang cukup panjang, Dian Anggi Ariyanti akhirnya termasuk dalam 25 anak muda Indonesia yang terpilih mengikuti program Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI) Academic Fellowship pada angkatan musim gugur ini. Tanggal 27 September nanti, Dian akan bertolak ke Amerika dan tinggal di sana selama lima minggu mengikuti perkuliahan di East West Center, Hawaii untuk bidang lingkungan hidup.

LAPORAN : AKHMAD MURTADHO

DIAN Anggi, kelahiran Jayapura Papua 29 April 1993 itu, mengenyam pendidikan kelas 1-2 di SMA Negeri 1 Jayapura, dan kelas 3 di SMA Negeri 22 Surabaya hingga lulus tahun 2011. Putri dari pasangan Soehartono – Johana Huik itu, juga alumnus Universitas Brawijaya Malang Jawa Timur jurusan Teknologi Pertanian.

Setelah menghabiskan masa SMA dan kuliah di Surabaya dan Malang Jawa Timur, Dian memutuskan untuk menetap dan mengabdi di Manokwari Papua Barat. Bersama komunitas Rumah Belajar Pulau Lemon, Dian aktif menjadi pengajar anak-anak penghuni pulau itu setiap akhir pekan.

Kini, Sarjana Teknologi Pertanian dari Universitas Brawijaya Malang ini terketuk hatinya untuk memperdalam pengetahuan mengenai pengelolaan lingkungan hidup agar bisa membantu masyarakat Manokwari meningkatkan kualitas kehidupan dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada.   

“Jujur, saya tidak tahu harus memulai dari mana, namun dengan mengikuti program YSEALI di Hawaii, yang memiliki keadaan geografis mirip dengan Manokwari, saya berharap bisa menerapkan apa yang saya lihat dan pelajari di sana untuk mengembangkan potensi alam yang ada di Manokwari. Hal ini pasti sangat berguna untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang berada di daerah setempat,” kata Dian. Ia menambahkan dirinya tertarik juga mempelajari pengolahan limbah plastic dan pengelolaan air bersih. “Masih banyak sampah plastik di Manokwari yang belum diolah,” timpal Dian.

Dian berminat pula mengamati kegiatan pertanian di Hawaii. 40 persen dari lahan di Negara Bagian Amerika Serikat yang ke-50 ini adalah area pertanian untuk kopi, nanas, macadamia dan tebu.  Menurut Dian, mayoritas penduduk dataran tinggi Manokwari adalah petani. Jadi, ia ingin sekaligus mempelajari pola dan mekanisme bercocok tanam di Hawaii.

Selama lima minggu, Dian akan mengikuti perkuliahan di East West Center yang merupakan lembaga kajian internasional didirikan oleh Kongres AS pada 1960. Institusi yang bersifat independen,  nirlaba dan dibiayai oleh pemerintah AS ini menawarkan pula kesempatan program pertukaran sehingga para profesional di bidangnya, baik dari Amerika Serikat maupun Asia Pasifik bisa saling bertukar pikiran, memperluas jaringan dan mengasah jiwa kepimpinan di East West Center. Sesuai dengan tujuan program YSEALI untuk membina para calon pemimpin muda di ASEAN,  Dian berharap program YSEALI  ini bisa memberikan dasar-dasar kepemimpinan baginya sehingga di masa mendatang, sebagai pemimpin ia bisa menjadikan tanah Papua tempat tinggal yang terbaik bagi anak-anak penerus bangsa.

Program YSEALI adalah program yang digagas pada tahun 2013 dan terbagi atas dua kategori, yaitu YSEALI Academic Fellowship danYSEALI Professional Fellowship. Karen Schinnerer, Atase Kebudayaan, Kedutaan Besar AS, menjelaskan bahwa, program ini bertujuan membangun jiwa kepimpinan generasi muda di ASEAN, mempererat hubungan Asia Tenggara dengan AS dan membina generasi muda di kawasan Asia Tenggara yang akan menjadi pemimpin masa depan ASEAN.

Program YSEALI Academic Fellowship dibuka bagi mahasiswa atau yang baru saja lulus dari universitas dengan usia 18-25 tahun untuk mengikuti perkuliahan selama lima minggu di beberapa universitas di Amerika Serikat. Program YSEALI Professional Fellowship memberikan kesempatan bagi peserta yang berusia 25-35 tahun untuk bekerja selama lima minggu di lembaga nirlaba, lembaga pemerintahan dan kantor swasta di Amerika Serikat.

Menjelang keberangkatannya ke Amerika, Dian masih terus aktif mengajar anak-anak Pulau Lemon dari mulai bernyanyi, bermain, makan bersama hingga menyelenggarakan lomba kecil-kecilan untuk perayaan kemerdekaan Indonesia di bulan Agustus yang lalu. “Saya tergerak dengan semangat belajar anak-anak Pulau Lemon yang tinggi walau dengan segala keterbatasan tempat belajar. Semoga saya bisa buat mereka bangga dan kami semua bisa maju bersama membangun Papua,” ujar Dian Anggi di akhir ceritanya. (***/akh)


Kategori : Features

Komentar