Garuda Indonesia
 

Minimnya rumah baca di Kota Sorong membuat sebagian masyarakat khususnya anak muda sulit memperoleh buku secara gratis. Beruntung masih ada beberapa orang yang perduli akan hal itu. Salah satunya, Suhardi Haras (36) yang merubah ruang tamunya menjadi ruang baca yang dinamakan Rumah Kata.

LAPORAN : NAMIRAH HASMIR

BERAWAL dari kesukaanya membaca buku, membuat ayah dari 2 anak ini sering mengumpulkan buku kesukaannya. Banyaknya buku koleksinya  kerap kali menjadi sasaran dari teman-temannya untuk meminjam buku.  Seringnya buku yang dipin­jam tidak dikembalikan, akhirnya ia memutuskan untuk mengatur agar buku yang dipinjam oleh rekannya, dapat ia minta kembali tanpa mengurangi rasa canggung di antara keduanya.

Memanfaatkan ruang yang tidak begitu luas, Hardi mengubah ruang tamu rumahnya menjadi ruang baca yang dipasangi 3 rak yang terisi banyak buku. Ruang tamu rumahnya pun dinamakannya sebagai Rumah Kata.

Rumah Kata mulai ia bentuk tahun 2015. Di tahun 2017 ini, ia mulai melirik media sosial untuk mengekspos kehadiran Rumah Kata ke masyarakat khususnya kawula muda dan anak-anak pelajar. “Rumah Kata sudah dari tahun 2015, cuma akhir-akhir ini baru saya up ke medsos,” kata Suhardi yang ditemui Radar Sorong, Selasa (15/8).

Buku yang saat ini tersedia di Rumah Kata sebanyak 1.500 buku. Selain berasal dari koleksinya dari masa-masa kuliah, buku yang ditampilkan juga berasal dari sumbangan teman yang juga memiliki koleksi buku. Tidak hanya novel, komik sospol dan buku lainnya juga tersedia di Rumah Kata. “Tapi yang paling banyak dicari anak-anak muda, ya bagian novel ini. Kalau anak kecil paling buku cerita atau komik,” terangnya.

Tidak sulit meminjam buku di Rumah Kata, cukup datang sendiri dan mengisi formulir pendaftaran serta memilih satu buku yang disukai. Tanpa biaya apapun, satu buah buku sudah bisa dibawa pulang dan dibaca, waktu peminjaman satu minggu. “Kalau terlambat, tidak didenda, hanya saja kan sudah ada waktu peminjamannya. Lagipula konsepnya kita kan berbagi,” jelasnya.

Saat ini lokasi yang digunakan untuk Rumah Kata, hanya di ruang tamu. Suhardi berencana kedepannya, dapat membuka Rumah Kata secara Out Door di samping rumahnya. Aktifitasnya bersama istri yang cukup sibuk, membuat Rumah Kata hanya buka pada hari Sabtu dan Minggu. “Tapi kalau malam hari ada teman yang datang dan mau pinjam, kita tetap buka,” ujarnya.

Hinggi kini sudah 50-an orang yang bergabung di Rumah Kata. Mengingat Rumah Kata yang tidak begitu luas, member yang datang hanya meminjam buku, tidak untuk membaca di Rumah Kata. Selain perorang, Rumah Kata juga sering kedatangan rombongan dari berbagai komunitas yang datang untuk meminjam buku dan berbagi soal buku.

Dengan adanya Rumah Kata ini, ia berharap agar para pemuda di Kota Sorong dapat lebih mengenal para penulis asal Indonesia, karena saat ini hanya ada beberapa penulis yang dikenal oleh anak muda, seperti Tere Liye. Suhardi berharap agar pemerintah dapat lebih peka dengan membuka ruang baca public seperti di tahun 90-an, sehingga anak-anak yang ingin membaca lebih mudah memperoleh tempat untuk membaca sekaligus memperoleh buku bacaan. (***)


Kategori : Features

Komentar