Garuda Indonesia
 

SORONG – Kabid Fisik dan Prasarana Bappeda Kota Sorong, Thomas Jitmau,S.Kom mengatakan Terminal Uji Berkala Kendaraan yang selama dipakai Dinas Perhubungan merupakan terminal Kabupaten Sorong yang sudah dialihkan ke Pemerintah kota Sorong sekitar 17 tahun lalu. “Itu tempat antrian dari kota dengan kabupaten ada di situ, tetapi akhir – akhir ini kita melihat daerah itu menjadi kawasan kumuh,”ungkapnya, Kamis (10/8).

  Disampaikannya, dari Satker mereka berharap koordinasi pemerintah daerah untuk membuka itu menjadi ruang terbuka hijau publik. Dari koordinasi pihaknya dengan Satker dan SKPD teknis adalah BLH, Bappeda dan Dinas PU. “Kita sudah sepakat daerah itu kita bikin ruang terbuka hijau bagi masyarakat,”katanya.

  Thomas mencontohkan tidak usah jauh – jauh, lihat saja Taman DEO, apakah itu tidak bagus? “Saya pikir semua orang bisa menikmati. Saya pernah pimpin rapat sebanyak 2 kali untuk bahas lahan terminal itu, alasan pertama kita koordinasi dengan Dinas Perhubungan untuk bagaimana peralatan yang itu dipindahkan, baru kita laporkan ke pak walikota baru kita bikin ruang terbuka hijau public,”ujarnya.

  Pihaknya sudah koordinasi namun terkendala lahan untuk pemindahan alat Dishub tersebut. Memang ada bantuan dari APBN untuk Dishub bangun terminal di belakang Hotel Luxio di Km 12, tapi semua yang terjadi kembali kepada kesadaran masayarakat itu sendiri.”Kalau hari ini kita pindahkan tapi kalau besok pagi sopir – sopir antri disitu juga bagaimana, apakah itu salah pemerintah atau salah pribadi,”jelasnya.

  Sedangkan niat baik pemerintah itu untuk kepentingan orang banyak, tapi terkadang orang tidak berpikir dengan baik dan rasional, maka timbulah konflik horizontal yang terjadi, akhirnya apa semua orang punya berkepentingan yang masuk jadi tempat itu sudah kita sepakat untuk pembuatan ruang terbuka hijau, awal tahun 2018 sudah realilsasi pelaksanaan.

  “Bukan hanya di terminal, tapi sampai daerah DEO akan dibebaskan untuk ruang terbuka hijau yaitu di jembatan Km 8. Makanya bangunan yang ada disitu akan dibongkar, namun kita akan lakukan rapat koordinasi dengan Dinas Pendapatan dan Perijinan terkait retribusi karena kita tidak sembarang membongkar bangunan tersebut, sebab mereka itu bukan hewan, mereka yang memperindah kota ini,” katanya.

  Hal senada dikatakan Kepala Dinas Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Kota Sorong, Julian Kelly Kambu, Untuk menata yang representetif  itu bukan hanya di terminal saja dibuat ruang terbuka hijau, tapi dari ATM Drive Thru depan Bandara DEO sampai di jembatan Km 8. Sehingga los – los yang ada di Km 8 harus ditertibkan, itu akan menjadi kawasan ruang terbuka hijau, seharusnya mereka tidak ada di situ.

  “Hanya diberi ijin saja dan kami telah melakukan rapat bersama mereka dan kita akan tindaklanjuti dan mereka sudah harus mencari gambaran agar los – los itu tidak ada lagi, misalnya pasar yang ada di Rufei bila sudah diresmikan,”katanya.

  Kelly yang juga Ketua Forum Komunitas Ruang Terbuka Hijau mengharapkan buat warga untuk menghijaukan yang bisa dihijaukan, lahan yang ada dimanfaatkan, entah dengan lahan tumbuhan atau bunga – bunga atau pohon yang lain, semua ruko  dan lain – lain itu wajib karena sudah diatur dalam Peraturan Daerah nomor 22 tahun 2012 tentang ruang terbuka hijau. “Untuk tingkat distrik dan lurah itu wajib menyiapkan ruang – ruang hijau karena sudah diatur di RTRW,”tegasnya. (zia)


Kategori : Metro

Komentar