Garuda Indonesia
 

MANOKWARI-Kabupaten Teluk Bintuni dinilai berhasil dalam menurunkan angka prevalensi penderita malaria hingga di bawah 1 persen. Bupati Teluk Bintuni Petrus Kasihiw mengatakan, pencegahan dan pemberantasan penyakit malaria sudah dilakukan sejak tahun 2010 yang juga mendapat dukungan penuh BP, perusahaan gas yang beroperasi di Bintuni.

“Pencegahan sudah digencarkan tahun 2010 saat masa Bupati drg Alfons Manibuy. dan sampai saat ini kami sudah cukup berprestasi dalam pencegahan malaria ini,’’ ujarnya kepada wartawan disela-sela Workshop Pencegahan HIV-AIDS dan Malaria di Aston Niu Hotel Manokwari.

Ada istilah di Bintuni “Anoples yes, Pasmodium no’’.  Ini artinya, lanjut Bupati, strategis pemberantasan penyakit malaria tak harus menghilangkan nyamuk anoples, tetapi bagaimana plasmodium  diberantas. “Sekarang di Bintuni praktek fogging (pengasapan) itu tidak ada. Kami mulai strategis penanganan malaria dengan racikan obat khusus,’’ tandasnya.

Dijelaskan Bupati,dalam pengobatan malaria terlebih dahulu diukur berat badan penderita. “Berdasarkan berat badan itu diberikan obat. Dengan demikian siapapun dapat melakukan pengobatan malaria tidak perlu dokter ahli, mantri atau petugas lapangan. Di dalam keluarga pun bisa,’’ imbuhnya.

Berkat kerja keras pemerintah angka penderita malaria di Bintuni turun dratis. Menurut Kasihiw ,saat ini yang terpapar malaria 2 orang per 1.000 orang.

“Kalau diberi warna, sekarang ini hanya 3 distrik yang berwarna merah. Sebagian warna hijau bahkan sudah putih, tidak pernah ditemukan ada malaria padahal berada di pegunungan,’’ imbuhnya.

Beberapa distrik yang sebelumnya menjadi endemic malaria, tetapi sekarang sudah dikategorikan putih atau bebas malaria. “Artinya, kebijakan yang telah dilakukan pemerintah sangat berhasil dalam penurunan malaria. Apa yang terjadi di Bintuni ini menjadi referensi bagi pencegahan malaria di daerah lain,’’ tuturnya.(lm)


Kategori : Manokwari

Komentar