Garuda Indonesia
 

KENDATI kampus tempatnya menimba ilmu sering vakum, Devi Anggyni Iryanti (20) tetap bertahan demi menggapai cita-cita menjadi dokter untuk membantu sesama manusia yang membutuhkan pengobatan.

LAPORAN : NAMIRAH HASMIR

KULIAH di Fakultas Kedokteran (FK) Unipa Kabupaten Sorong, membutuhkan biaya yang cukup besar, terutama uang semester yang nominalnya Rp 15 juta.  Beruntung bagi Devi ~sapaan akrabnya~, meski diawal semester ia harus membayar Rp 15 juta untuk semester pertama, namun hingga PKL, seluruh biaya perkuliahan Devi ditanggung pemerintah daerah Kabupaten Sorong yang memberikannya beasiswa.

Untuk mendapatkan beasiswa tersebut, Devi hanya melakukan pendaftaran ke FK UNIPA sesuai dengan informasi yang diterima dari sekolah. Dengan mengurus berkas ke Dinas Pendidikan Kabupaten Sorong dan mengikuti tes tertulis. Setelah dinyatakan lolos tes tertulis, Devi melakukan registrasi ulang untuk mengikuti tes yang diberikan oleh FK UI.

Dari sekian banyak pendaftar, Devi lolos dan merupakan satu-satunya mahasiswa FK Unipa yang berasal dari Kabupaten Sorong pada angkatan pertama. Atas keberhasilan memasuki FK Unipa, Devi memperoleh beasiswa. “Yang dapat beasiswa ada 3 orang, 2 orangnya putra daerah,” kata Devi yang ditemui di kediamannya yang terletak di SP I Kabupaten Sorong.

Beasiswa yang diterimanya merupakan bentuk apresiasi pemerintah daerah pada dirinya yang merupakan satu-satunya lulusan SMA dari Kabupaten Sorong yang berhasil lolos masuk FK Unipa..  Mendapatkan beasiswa, Devi merasa bangga dan sangat terbantu karena tidak terlalu membebani orang tua untuk biaya kuliah. Menghargai bantuan pemerintah daerah yang sangat besar padanya, Devi bertekad dapat menyerap ilmu pendidikan di FK Unipa sebaik mungkin, sehingga saat mengaplikasikan ke masyarakat bisa lebih baik dan menolong banyak orang.

Selain digunakan untuk membayar biaya semester dan lainnya, beasiswa ang diperolehnya juga dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari. “Biayanya itu dibagi menjadi 3, untuk biaya hidup yang diberikan 2 kali setiap satu semester dengan biaya persemester Rp 24 juta,”  terangnya.

Devi berharap agar kampus tempatnya menimba ilmu kedokteran ini tak lagi ‘macet-macet’ karena saat ini Perjanjian Kerja Sama (PKS) FK Unipa sudah melibatkan Provinsi Papua Barat. “Sekarang PKSnya sudah, dari UI, Unipa, Pemda Kabupaten Sorong dan Provinsi Papua Barat,” katanya.  Dalam PKS tersebut, Pemkab Sorong menangani dana operasional dan sarana prasarana, sementara Pemprov Papua Barat menangguh dana pengampuhan untuk mendatangkan dosen dari FK UI selama 5 tahun kedepan.

Ibunda Devi, Siti Kholifah juga menginginkan agar FK Unipa dapat berjalan lancar seperti diawal tanpa ada permasalahan yang menyebabkan kemacetan. Karena, impian Devi saat ini dapat menyelesaikan kuliahnya dan menjadi dokter untuk mengabdi ke masyarakat di Papua Barat.

Masuk ke FK Unipa juga membutuhkan perjuangan, selain memilih dua fakultas antara STAIN dan FK Unipa, biaya yang dikeluarkan juga tidak sedikit. “Sebelum mendengar lolos di FK Unipa, Devi sudah bayar biaya masuk di STAIN, Rp 800 ribu,” jelas Siti.

Ia bersyukur Devi memperoleh beasiswa, karena saat ini pekerjaan bapaknya hanya bertani setelah di PHK dari pekerjaan sebelumnya sebagai buruh pabrik. “Dulunya buruh pabrik, tapi sekarang bapak cuma bertani,” ucapnya.

Siti berharap cita-cita Devi menjadi dokter dapat terwujud, karena melalui cita-citanya ia dapat menyembuhkan orang termasuk orang tuanya. “Dia dulu bilangnya mau jadi dokter, biar bisa sembuhkan orang tua kalau lagi sakit, karena dokter perantara dari Allah,”  ucap Siti. (***)


Kategori : Features

Komentar