Garuda Indonesia
 

MIMPI memajukan dunia kesehatan di Papua Barat, Indah Ein Fajarawati Wainraf (20), Mahasiswi Fakultas Kedokteran (FK) UNIPA dan beberapa temannya tetap bertahan meski kampus tempatnya menimba ilmu seringkali vakum karena beragam permasalahan.

LAPORAN : NAMIRAH HASMIR

MENIMBA ilmu sebaik mungkin demi menggapai cita-cita di masa depan, merupakan tugas bagi seorang mahasiswa, demikian pula halnya Indah ~sapaan akrabnya~, mahasiswi Fakultas Kedokteran Unipa. Namun upayanya mendapatkan ilmu pengetahuan sebaik mungkin, kerap terusik permasalahan Internal kampus sehingga memaksa Indah dan rekan-rekannya, vakum selama beberapa waktu lamanya.

Kebutuhan akan tenaga kesehatan di wilayah Papua Barat, membuat Indah dan mahasiswa lainnya bertahan. Masalah yang timbul membuat mereka semakin dekat dan berjuang bersama untuk menyelesaikannya. “Kita yang masuk di FK Unipa berkomitmen untuk tetap bekerja di Papua Barat, itu yang mendorong kita tetap kuliah disana,” kata Indah yang oleh rekan-rekannya dipercaya sebagai Ketua BEM FK Unipa.

Perasaan sedih karena vakumnya aktifitas perkualiahan, sudah pasti dirasakankannya. Apalagi saat ini, seharusnya ia dan rekannya sudah memasuki semester VII, namun karena kondisi kampus yang sering kali mandeg, membuat mahasiswa FK Unipa masih berada di semester V. Namun demikian, FK Unipa kembali akan beraktifitas sebagaimana kampus normal lainnya. “Rencananya tanggal 18 Agustus sudah bisa berjalan. Tapi karena hari Jumat, jadi diundur di hari Senin, tanggal 21 Agustus,” kata Indah.

Rasa sesal memilih masuk Fakultas Kedokteran Unipa sempat menghantui benak Indah. Betapa tidak, ia lebih memilih FK Unipa demi bisa mengabdi di tanah Papua selepas kuliah nanti, daripada kuliah di Jepang. Ya, selepas pendidikan menengah atas di SMAN 3 Kota Sorong, Indah termasuk salah satu lulusan SMAN 3 yang tembus di salah satu perguruan tinggi di Jepang melalui jalur beasiswa yang disediakan pihak sekolah SMAN 3 untuk putra-putri daerah di tahun 2014 silam. Namun, di waktu bersamaan, FK Unipa membuka pendaftaran dan ia memutuskan untuk melanjutkan kuliah di tanah Papua, dan menolak beasiswa ke Jepang. “Tapi keinginnan untuk melanjutkan kerja di tanah sendiri, buat saya tetap bertahan dan buang jauh-jauh rasa menyesal,” ujarnya.

Meski tidak mendapatkan beasiswa dan harus membayar Rp 15 juta tiap semesternya, Indah tidak pernah merasa rugi memilih melanjutkan studi di FK Unipa. Biaya kuliah yang tinggi tersebut menurutnya sebanding dengan ilmu yang akan diterima, termasuk sarana prasarananya.  Membayar Rp 15 juta, untuk diawal semester diberikan keringanan dengan menyicil, sementara memasuki tahun ketiga kuliah, biaya semester diminta untuk dibayar secara penuh tanpa dicicil. Meski demikian, informasi pembayaran sudah diberitahu sebulan sebelumnya, sehingga bisa disiasatinya untuk dilunasi.

Anak ke-9 dari 11 bersaudara ini menilai biaya yang dikeluarkan tiap semester, sesuai dengan hasil yang diperolehnya, dalam hal ini ilmu pengetahuan, skill praktek dan lainnya. Dosen yang didatangkan untuk mengajar di FK Unipa berasal dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang merupakan kampus terbaik di Indonesia. Seluruh metode pelajaran yang diberikan juga sama dengan FK UI, dimana kurikulum yang diberikan menggunakan modul untuk setiap mata pelajaran.

Untuk semester pertama, mata pelajaran yang diterima merupakan mata pelajaran umum, sedangkan untuk semester selanjutnya, mahasiswa mulai menerima pelajaran kedokteran. Pelajaran diberikan langsung oleh 100 persen dosen dari FK UI yang sesuai dengan bidangnya masing-masing. “Dosennya 100 persen dari FK UI semua,” katanya.

Dalam 3 hari, ada 3 atau 4 dosen yang mengajar untuk satu angkatan, sehingga dalam satu minggu bisa dilakukan pergantian dosen 2 atau 3 kali. Jadwal perlajaran yang diberikan mulai dari hari Senin hingga Jumat, dari pukul 08.00 WIT hingga 15.00 WIT. “Dalam satu hari itu bisa diisi dengan praktikum, diskusi dan teori juga,” jelasnya.

Sarana dan prasarana yang disediakan pada gedung RSUD Rujukan Kabupaten Sorong yang saat ini digunakan sebagai kampus sementara FK Unipa, tempat belajar mengajar, cukup lengkap dan tidak kalah dengan kampus lainnya. Peralatan kedokteran sudah banyak, fasilitas pendukung lainnya seperti laboratorium anatomi, lab basah dan lab kering.

FK Unipa saat ini memiliki 102 orang mahasiswa, 32 orang angkatan pertama, 34 orang angkatan kedua dan 36 orang angkatan ketiga. FK Unipa juga dilengkapi alat kedokteran berupa computer berisi praktikum fisiologi. Alat tersebut merupakan yang pertama di Indonesia Timur dan hanya ada di FK Unipa.

Dengan sarana dan prasarana yang tersedia, mahasiswa tidak begitu khawatir untuk mengikuti pelajaran di kampus sementara tersebut. Hanya saja, isu pemindahan RSUD Sorong dari Kota Sorong ke Gedung Rumah Sakit Rujukan yang saat ini digunakan sebagai kampus sementara Fakultas Kedokteran, Unipa, dirasa cukup mengganggu, mengingat gedung permanen FK Unipa belum selesai pembangunannya. “Kita hanya khawatir gedung yang kita gunakan sekarang ini akan diisi, dan kita harus pindah,” ucapnya.  Namun kegelisahan tersebut terjawab dalam rapat tingkat nasional yang dilakukan pada bulan Juli lalu, gedung RSUD tersebut akan diisi di tahun 2019. Itu artinya, gedung FK Unipa yang ditargetkan rampung tahun 2019, sudah selesai dibangun dan siap digunakan, sehingga tak jadi soal lagi jika nantinya mereka ‘terpaksa’ pindah dari kampus sementara tersebut. (***)


Kategori : Features

Komentar