Garuda Indonesia
 

KEPERGIAN Salsabillah Nur Eka Putri untuk selamanya, meninggalkan duka mendalam keluarga dan kerabatnya. Semasa hidupnya, bocah 7 tahun itu sangat periang, rajin sholat, ngaji serta sangat menyukai pelajaran Bahasa Inggris. Kini, hanya doa yang bisa dipanjatkan mengiringi kepergiaannya menghadap Sang Pencipta.

OLEH : NORMA FAUZIA MUHAMMAD

AJAL, tak satupun kita yang bernyawa bisa memprediksi kapan datangnya, meski kita sangat meyakini suatu saat akan menjemput kita. Demikian pula yang dialami oleh Salsabillah, putri kedua dari pasangan Serda Mustamin dan Yanti. Siapapun tidak menyangka, anak periang kelahiran 10 Maret 2010 ini pergi begitu cepat. Gadis belia berambut pendek nan murah senyum ini, kini tak lagi disisi keluarga dan kerabatnya, ia telah dipanggil menghadap Sang Khalik yang maha segala-galanya.

Meski kita menyakini rahasia Ilahi terkait ajal, pastinya keluarga yang ditinggalkan berduka cita ditinggal untuk selama-lamanya. Demikian pula terasa di keluarga orang tua Salsabillah, Mustamin-Yanti yang kehilangan anak tercintanya. Kesedihan begitu terlihat di raut wajah kedua orang tuanya yang tentunya mengharapkan sang anak ada di tengah keluarga, terlebih ketika satu persatu teman Salsa melayat ke rumah duka dengan mengenakkan seragam SD berhijab, lagi-lagi pipi keluarga almarhumah Salsa dibasahi dengan derai air mata sedih yang tak kuasa ditahan.

Betapa tidak, teman – teman Salsa membuat mereka membayangkan seandainya itu Salsa, dan bahkan merintih pun mereka lakukan karena tersadar bahwa Salsa benar-benar sudah tidak ada lagi untuk mereka peluk, mereka manja, mereka cium selamanya. Beberapa barang pribadi milik Salsa diletakkan di atas tempat tidur yang digunakan Salsa sebelum dimakamkan, terlihat ada Sajadah yang dipakai Sholat, Iqro yang dipakai ngaji, Celengan, Pakaian Seragamnya, dan juga Bantal Peluk kesayangannya serta buah kesukaannya, Lengkeng.

Sambil merangkul Kak Yanti, ibu almarhumah, beberapa pertanyaan saya sodorkan, pikirku dia tegar, namun memang setiap pertanyaan akan ada air mata yang terurai bahkan dia terbata-bata menjawab berbagai pertanyaanku akan Salsa semasa hidup hingga pergi untuk selamanya. Saya pun tak mampu membendung airmata yang tiba-tiba mengalir hingga tak mampu melanjutkan pertanyaan yang tersisa. “Dia waktu TK memang agak lambat, waktu TK saya kasih ikut dia les, akhirnya saya kasih keluar dia. Di rumah dia berusaha belajar sendiri dan tahu baca sendiri karena saya kasih motivasi dia untuk belajar, masak malu dengan teman-teman. Waktu puasa itu dia sholat 5 waktu di Masjid, mengaji, sampai saya beli Iqro baru, suka pelajaran Bahasa Inggris. Dia bilang mau puasa full tapi nanti kelas 3, tapi saya bilang sekarang saja biar masih kelas 2. Dia paling periang sekali, tidak pernah murung,” ungkap Yanti sambil menagis mengenang Salsa, Senin (7/8).

Tidak ada tanda-tanda yang dirasakan Yanti akan kepergian putrid keduanya tersebut selamanya, namun Yanti mengingat bahwa saat arisan, nama Salsa yang keluar dan itupun Salsa sendiri yang membukanya. “Kertas itu dia yang buka sendiri baru bilang mama ini Salsa pu nama. Kalau saya tau namanya yang keluar untuk selamanya, saya kasih masuk sudah, biar orang lain yang dapat, itu minggu lalu. Terus dia bilang ke Top Senyum beli lampu-lampu, sampai disana malah tambah dengan buku gambar,” ungkap Yanti.

Sebelum meninggal, Salsa minta dipeluk. Salsa juga mengaji hingga 2 halaman, menghafal pelajaran Bahasa Inggris pada hari Jumat (4/8) karena pada hari Selasa nanti akan ulangan, namun siapa yang menyangka semua itu tinggal kenangan. “Dia minta gendong, padahal saya ada atur-atur barang toko. Saya bilang di bapa sudah nak, dia tidak mau. Saya cium-cium dia bilang anak mama su besar. Kemarin sebelum pergi, dia baca Iqro 2 kali, terus belajar Bahasa Inggris. Dia bilang mama, Salsa mau belajar karena hari Selasa mau ulangan, dia tanya mama betulkah Be Quiet itu artinya diam ma, terus saya bilang iya. Dia hafal semua baru bilang mama saya siap untuk ulangan ini. Dia senang belajar Bahasa Inggris,” katanya.

Yanti tidak menyangka lambaian tangan dengan ucapan “dadaaaa, dadaaa mamaa” yang diucapkannya saat pamit mau ke kelom renang dengan ayah, kakak dan adiknya, merupakan ucapan perpisahan untuk selama-lamanya dari Salsa. “Dia sempat ajak saya tapi saya bilang tidak bisa, mama jaga toko. Saya menyesal sekali kenapa saya tidak ikut antar. Pas mau pergi dia bilang daadaaa mama, ternyata itu yang terakhir ee,” kisa Yanti pilu.

Ia sangat kehilangan, sehingga memikirkan Salsa di alam kubur nanti bagaimana. Ingin memeluk Salsa dan berada di samping Salsa. Rasa kekhawatiranya membuat Yanti memimpikan Salsa.  “Dia tidak bisa tidur tanpa di sampingku. Dia harus peluk-peluk saya. Waktu malam tidur, saya minta ketemu peluk dia tapi dia cuma kasih lihat di atas kuburnya terang sekali dengan bintang-bintang, mungkin itu tanda kalau dia sudah bahagia,” katanya.

Mewakili Salsa, Yanti dengan penuh harap meminta maaf kepada semua guru-guru dan teman-teman jika Salsa ada salah, mohon dimaafkan. “Saya minta maaf mewakili Salsa, kalau ada salah di guru dan teman-temanya,” ucapnya. Terkait kematian anak terkasihnya di Kolam Renang Tirta Maladum Korem, Yanti mengharapkan agar kolam renang tersebut ditutup saja agar kejadian serupa tidak terulang. “Tutup itu saja, jangan orang pu anak mati disitu saja terus,” tukasnya. (***)


Kategori : Features

Komentar