Garuda Indonesia
 

JAKARTA – Pada setiap multievent olahraga, Kemenpora sebagai pemegang kebijakan olahraga nasional selalu menyediakan apresiasi alias bonus. Kebijakan itu menjadi wujud perhatian pemerintah buat kesejahteraan atlet Indonesia. Terakhir, di Olimpiade 2016 silam, peraih emas diganjar Rp.5 Miliar dari pemerintah.
 
Kebijakan yang sama bakal diterapkan kepada atlet Indonesia yang akan berjuang di SEA Games 2017. Meskipun belum menentukan nominal yang yang diberikan kepada peraih medali emas, perak dan perunggu, Menpora Imam Nahrawi berkomitmen tetap memberikan apresiasi kepada pahlawan olahraga Indonesia.
 
Bonus berbentuk non tunai saat ini menjadi pertimbangan utama pemerintah buat atlet Indonesia. Misalnya, rumah dan garansi menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Tetapi, dua opsi bonus tersebut masih berada di taraf wacana yang terus dikoordinasikan di level antar Kementerian. ”Kalau memang dijalankan dua opsi itu, tentu kami akan melakukan rasionalisasi,” kata Menpora di sela-sela kunjungan ke proyek renovasi Stadion Utama Gelora Bung Karno kemarin (8/8).
Sebagaimana diketahui pada SEA  Games 2015 lalu, peraih emas mendapatkan bonus Rp.200 juta dan berturut-turut Rp.100 juta (perak) dan Rp. (perunggu). Dengan situasi ini, Kemenpora ada niat untuk melakukan pengurangan nilai tersebut. 
 
Tentu itu masih menunggu kepastian dua opsi apresiasi sebelumnya, mendapatkan rumah dan garansi PNS. Sebab, dua opsi tersebut merupakan dua kewenangan Kementerian lain. Yakni Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB) untuk garansi PNS dan rumah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemenpupera). 
 
”Mosok dapat uang, rumah dan pns sekaligus,” ujar Imam. Menteri asal Bangkalan itu mencoba mencari solusi lain terkait bonus non uang tunai. ”Sesuai rapat dengan Bu Menko PMK (Puan Maharani, Red) ada arahan untuk memberikan bonus berupa asuransi ataupun bahkan tabungan,” lanjutnya
 
 Sementara itu, legenda bulu tangkis Indonesia, Taufik Hidayat menjelaskan bahwa dirinya melihat ada dua kecenderungan berbeda dengan opsi bonus tersebut. ”Tentu ada pro dan kontra, kalau rumah dan PNS ini bisa menjadi investasi buat atlet,” kata pria yang menjadi Staf khusus Deputi IV Kemenpora bidang peningkatan prestasi Olahraga itu. 
 
Sedangkan kecenderungan bonus uang membuat atlet lebih konsumtif. ”Tetapi itu kembali kepada putusan masing-masing kementerian yang terkait,” sebutnya. Namun, dengan kapasitasnya sebagai salah satu legenda hidup bulu tangkis Indonesia, ada baiknya memang atlet diberikan bonus yang berbentuk investasi. (nap)

Kategori : Sport

Komentar