Garuda Indonesia
 

Para petani Krayan tak punya pilihan selain menjual beras Adan mereka kepada tengkulak Malaysia yang rajin berburu dari pintu ke pintu. Jalur darat dari dan menuju kawasan di Kalimantan Utara itu hanya bisa lewat negeri jiran. 

M. AZRUL-M. ERWINSYAH, Nunukan 

DI plastik pembungkusnya tertulis made in Malaysia. Di salah satu pusat perbelanjaan di Sarawak itu, per kilogram beras yang terbungkus plastik tersebut dihargai RM 26. 

Jika dirupiahkan, sekitar Rp 78 ribu. Sangat mahal. Hampir empat kali lipat jika dibandingkan dengan harga beras tersebut di kampung asalnya, Krayan, yang hanya 20 ribu. 

Ya, kendati ditulisi made in Malaysia, Adan adalah beras ”endemik” Krayan. Krayan merupakan wilayah di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, yang langsung berbatasan dengan Sarawak, salah satu negara bagian Malaysia.

Dulu hanya ada satu kecamatan di kawasan yang dibentengi Taman Nasional Kayan Mentarang itu: Krayan. Tapi, kini dimekarkan jadi lima, yaitu Krayan, Krayan Barat, Krayan Tengah, Krayan Timur, dan Krayan Selatan. 

”Klaim dari Malaysia itu jelas sangat merugikan petani Indonesia di Krayan,” kata Koordinator Penyuluh Pertanian dan Peternakan, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP), Nunukan, Heru Wihartopo kepada Radar Nunukan (Jawa Pos Group).

Tapi, apa boleh buat, penelusuran Radar Nunukan ke Krayan hingga masuk wilayah Malaysia, petani setempat memang tak punya pilihan selain menjual produk mereka ke negeri jiran. Pemicunya, apalagi kalau bukan soal akses dan transportasi. 

Krayan, seperti banyak wilayah perbatasan lain, bisa dibilang adalah ”anak tiri” Indonesia. Akses dari semua wilayah Indonesia ke Kecamatan Krayan dan Krayan Selatan cuma bisa lewat udara. Termasuk dari Nunukan. 

Itu pun calon penumpang harus memesan tiket pesawat sebulan sebelumnya. Menggunakan pesawat Hevilift yang sudah bekerja sama dengan Pemkab Nunukan melalui program subsidi ongkos angkut (SOA), Krayan bisa dicapai dalam sejam penerbangan. 

Pilihan lain dari Long Bawan, pusat pemerintahan Krayan, jika ingin ke Nunukan harus lewat wilayah Malaysia. Jalur darat, melalui Sarawak, menuju Tawau di Sabah. Dilanjutkan angkutan laut menuju Nunukan. 

Menurut Camat Krayan Helmi Pudaaslikar, pihaknya sebenarnya sudah tanpa henti meminta agar infrastruktur di wilayahnya diperbaiki. Tapi, sampai sekarang tak ada hasil. 

”Sampai kapan mau menunggu? Lima hingga puluhan tahun ke depan belum tentu ada. Apakah ini bakal terus terjadi,” ujar Kepala Desa Long Katung (salah satu desa di Krayan) Ervan secara terpisah.

Dengan kondisi seperti itu, tak mengherankan kalau 99 persen kebutuhan sembako di Krayan dipasok dari Malaysia. Termasuk empat kecamatan lain.

Pilihan bagi warga Krayan untuk menjual hasil bumi otomatis hanya ke wilayah Malaysia yang bisa dijangkau dari darat. Lebih murah, lebih efisien. Apalagi, banyak tengkulak dari Malaysia yang berburu langsung dari pintu ke pintu ke Krayan. 

Karena tak ada pilihan lain tersebut, para tengkulak dari Malaysia jadi bisa mempermainkan harga. Para petani Krayan otomatis harus menurut dengan harga yang ditawarkan yang tak memberikan banyak keuntungan.

”Petani sulit untuk menahan beras mereka agar harga bisa lebih tinggi. Sebab, menjual beras itu berkaitan langsung dengan pemenuhan kebutuhan mereka,” kata Heru. 

Beras Adan merupakan tanaman organik. Tak memakai pupuk kimia. Karena itu, dikenal sangat pulen dan wangi. Konon, beras yang memiliki tiga varian –merah, hitam, dan putih– itu sangat disukai keluarga Kesultanan Brunei Darussalam. 

”Jika dibandingkan dengan harga beras biasa, beras Adan memang mahal. Namun, kualitas dan rasa dari beras ini tidak ada duanya. Ini telah diakui sejumlah negara,” kata Heru.

Sejak 2012, beras Adan sejatinya telah diakui sebagai hasil produksi Krayan. Melalui Sertifikat Indikasi Geografis Beras Adan Krayan dengan nomor ID G 000000013 dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI). 

Beras Adan dahulu ditanam di sawah dataran tinggi dengan cara menyebar benih secara acak. Kini pembenihannya dibuat persemaian. 

”Benih padi direndam dulu sehari semalam, diangkat, didinginkan, lalu disemai kembali. Benih ditebar dan tumbuh. Setelah tumbuh, padi dipindahkan ke sawah yang sudah disiapkan,” kata Juliati, salah seorang petani. 

Di Sarawak, beras Adan dikenal sebagai beras Bario. Sekalipun mungkin ada petani di Sarawak yang menanamnya, para petani Krayan yakin rasanya bakal berbeda dengan yang dihasilkan di Krayan. 

Saat ini luas sawah di lima kecamatan di Krayan sekitar 3.466 hektare (ha). Petani menanam ketika musim hujan tiba. Umumnya pada Agustus hingga September. Jadi, hanya sekali dalam setahun. 

Jika dihitung tiap panen, dengan luas 1 ha sawah, dapat dihasilkan 2 hingga 3,5 ton gabah. Dengan demikian, dengan luas total sawah sebesar itu, dalam setahun dapat diproduksi sekitar 8.665 ton gabah. 

Setelah menjadi beras, jumlahnya menyusut jadi 4.700 ton. Dari jumlah tersebut, hampir 50 persen dikonsumsi masyarakat. Selebihnya dijual. 

Problem lain yang mengancam beras Adan adalah menurunnya produksi. Sebab, pertanian di Krayan sangat bergantung kerbau. Padahal, dari tahun ke tahun, jumlah kerbau terus menurun. Sedangkan luas sawah semakin bertambah. 

Juliati menuturkan, jumlah kerbau itu menurun karena tingginya biaya hidup. Jadi, hewan penopang pola tanam tersebut harus dijual. 

”Untuk kebutuhan sehari-hari. Belum lagi kebutuhan anak yang sekolah,” bebernya. 

Dia memberikan contoh, sebelumnya jumlah kerbau miliknya mencapai 15 ekor untuk menggarap sawahnya seluas belasan hektare. 

”Sekarang hanya tersisa 9 hingga 10 ekor. Beberapa sudah dijual,” katanya. (*/JPG/c10/ttg)


Kategori : Features

Komentar