Garuda Indonesia
 

AIMAS – Ratusan pekerja lapangan survei seismic unit drilling, melakukan aksi demo di Kantor DPRD Kabupaten Sorong, Sabtu (22/7). Aksi yang dilakukan, akibat kekecewaan yang memuncak para pekerja yang diterima 2 bulan terakhir, serta pemukulan yang dilakukan oleh oknum TNI terhadap salah satu pekerja.

  Sebelum tiba di Kantor DPRD Kabupaten Sorong (Kabsor), para pekerja tersebut yang berjumlah kurang lebih 300 orang berkumpul di Km 28, Distrik Mariat untuk bersama-sama melakukan long march menuju Kantor DPRD Kabsor, dengan berjalan kaki melintasi jalan Sorong-Klamono. Aksi yang dilakukan merupakan aksi spontan, namun tetap mendapatkan pengawalan anggota Polres Sorong.

  Saat tiba di Kantor DPRD Kabsor, para pekerja seismic melakukan aksi menumpahkan makanan di depan kantor DPRD Kabsor. Aksi tersebut, merupakan bentuk protes terhadap perusahaan yang dianggap memberikan makanan tidak layak dikonsumsi oleh para pekerja, jika dibandingkan dengan pekerjaan yang dilakukan di lapangan.

  Setelah menunggu cukup lama, Ketua Komisi I DPRD Kabsor, Arnold Lemauk, S.Sos,M.Si bersama Sekwan DPRD Kabsor, H.Rumwaropen,SH.MH menemui para pekerja. Para pekerja lalu menyampaikan seluruh aspirasi yang hampir dua bulan ini dipendam.

  Dari aspirasi yang disampaikan tersebut diketahui, selain menuntut kelayakan makanan dari perusahaan, mereka juga meminta kelayakan gaji, yang menurut mereka tidak sesuai dengan pekerjaan yang mereka kerjakan. Selain itu, aksi tersebut, merupakan bentuk protes terhadap tindakan pemukulan menggunakan selang di bagian belakang tubuh salah satu pekerja, yang dilakukan oleh salah satu oknum TNI yang ditugaskan berjaga di base camp tersebut.

  Karena, anggota DPRD Kabsor yang lain sedang berada di luar daerah, maka Arnold Lemauk meminta agar pekerja dapat bersabar menunggu kedatangan anggota DPRD lainnya, untuk melakukan pertemuan kembali bersama dengan pihak perusahaan, sehingga dapat memberikan keputusan yang baik. Arnold Lemauk meminta agar pertemuan dilakukan di awal Agustus mendatang.“Saat ini, anggota DPRD lainnya sedang berada di luar kota, sehingga kita akan jadwalkan pertemuan di tanggal 1 Agustus nanti,” ucapnya dihadapan seluruh pekerja yang memenuhi teras depan Kantor DPRD Kabsor.

  Sementara itu, saat dikonfirmasi terkait keluhan dari para pekerja lapangan tersebut, Humas Survey Seismik 3D Klamassosa, Subarkah yang ditemui media di kantornya, mengatakan bahwa, aksi yang dilakukan oleh para pekerja tersebut, bermula saat sarapan pagi, dimana salah seorang pekerja yang dalam kondisi mabuk, mendatangi tempat makan untuk mengambil makanan.

  Merasa makanan yang diberikan tidak sesuai, pekerja tersebut melakukan keributan. Anggota TNI yang bertugas, lalu mendatangi lokasi untuk mengamankan pekerja tersebut. Namun, saat dilakukan pengamanan, pekerja yang diduga masih dalam keadaan mabuk tersebut melakukan perlawanan, hingga akhirnya anggota TNI tersebut melakukan pemukulan menggunakan selang. Pemukulan yang dilakukan, untuk menghentikan perlawanan pekerja tersebut.

  Selain perlawanan yang dilakukan, pekerja tersebut juga telah menyalahi aturan yang dibuat oleh perusahaan. Dimana para pekerja dilarang keras untuk mengkonsumsi miras di area kerja. Dimana, terdapat pengecekan secara berkala untuk setiap pekerja terkait dengan miras.“Di camp, bagian pengamanan sering kali merazia minuman beralkohol itu,” terang Subarkah.

  Sementara gaji yang masuk dalam aspirasi para pekerja tersebut, menurutnya ditangani oleh pihak ketiga atau sub kontraktor, yang menangani. Namun, untuk di dunia seismic, menggunakan system borong, sehingga besaran gaji yang diterima berdasarkan banyaknya titik yang diperoleh. Sementara Gaji UMR tetap disesuaikan.“Semua sudah sesuai dengan kontrak kerja, yang diketahui oleh Dinas Tenaga Kerja dan ditandatangani oleh para pekerja,”ungkapnya.

  Untuk persoalan makanan sendiri, menurut Subarkah juga menjadi tanggung jawab sub kontraktor. Pengecekan berkala juga rutin dilakukan, seminggu 3 kali dilakukan oleh petugas HSE. Namun, sampai terjadinya hal tersbut, menurutnya evaluasi dan monitoring akan dilakukan kembali. Tapi menurutnya, perubahan terhadap makanan segera dilakukan sehari setelah aksi tersebut berlangsung. “Kita langsung pastikan, ada perubahan terhadap makanan,” ujarnya.

  Aksi yang dilakukan oleh para pekerja tersebut, dianggap aksi spontantanitas. Melihat dari situasi tersebut, Kabag Ops Polres Sorong, Kompol Hengky K Abadi,S.IK langsung memfasilitasi, dengan menurunkan jumlah anggota sebanyak 25 hingga 30 personil.“Aksi tersebut hanya menyampaikan aspirasi dan terlihat kondusif,”ucapnya. (nam)


Kategori : Berita Utama

Komentar