Garuda Indonesia
 

SORONG – Banjir yang terjadi Kota Sorong membuat warga mengeluh dan sebagian aktivitas lumpuh akibatnya banyak kendaraan pribadi maupun milik perusahaan jasa angkutan umum banyak yang masuk bengkel dan ratusan rumah terendam banjir. Dari pantauan Radar Sorong bahwa banjir kali ini memang yang terparah dibanding banjir yang pernah terjadi di kota Sorong. Hal ini menimbulkan beberapa persepsi dimana warga menyalahkan pemerin­tah akan kejadian banjir terse­but. Namun sebagian warga juga mengakui bahwa ini karena kesalahan dari manusia.

  “Ini banjir parah, banyak yang salahkan pemerintah sam­pai update status di medsos. Kami sih pikir positif saja, memang banyak oknum juga yang buang sampah di kali dan sembarangan. Salah­nya pemerintah juga, buat tempat sampah sedikit maka­nya hal itu terjadi,”kata salah satu warga yang enggan menyebutkan namanya

  Sementara itu, Kepala Dinas Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Kota Sorong, Julian Kelly Kambu, ST mengatakan bahwa banjir yang terjadi sebaiknya jangan kita saling menyalahkan. Seha­rusnya kita saling me­ngevaluasi dan mengintropeksi diri.

  “Banjir semalam kemarin ada salah satu fenomena alam karena saya keliling pantau banjir. Banjir ini kan dise­babkan oleh beberapa factor. Terutama saluran drainase, volume air dan ukuran drainase itu tidak sesuai,”katanya saat ditemui di kantor Walikota Sorong, Rabu (14/6).

  Dikatakannya hujan yang terjadi yang menyebabkan kota Sorong dikepung banjir pada malam hari Selasa (13/6) itu sudah termasuk fenomena alam, kerena durasi hujan hanya 1 hingga 2 jam saja sedangkan hujan yang sering terjadi hingga semalaman di kota Sorong, lantas tidak menyebabkan banjir.

  “Sebelum – sebelumnya ada hujan yang satu malam full tapi tidak separah kemarin itu. Ini artunya bahwa ada fenomen alam, alam juga bersuara dan caranya seperti itu. Sehingga diharapkan kepada kita semua, dalam melaksanakan pem­bangunan apapun bentuknya agar mema­sukan pertimbangan – pertimbangan lingkungan didalam perencanaan sudah dianggarkan.

Dikatakannya bahwa drai­nase yang ada di kota Sorong tidak memenuhi standar atau  belum ditata dengan baik, entah itu drainase yang men­jadi tang­gungjawab PU Kota Sorong dan Balai Provinsi. Harusnya ada koordinasi yang baik antara instansi teknis dimana PU Kota Sorong dan Balai Provinsi untuk membahas tupoksi.

  “PU Kota dan Balai Provinis ini harus duduk baru memba­has mana yang menjadi tang­gungjawab dan kewenangan sehingga tidak saling melempar dan ini harus membuat desain drainase kemudian dikerjakan secara bertahap dan berke­lanjutan. Drainase itu dibangun dari mana air itu mengalir hingga berakhir. Jangan putus – putus, tidak boleh,”katanya.

  Kelly Kambu mengatakan bahwa drainase yang ada di kota Sorong sudah beralih fungsi dimana bukan untuk aliran air tetapi sebagian di drainase ada tanaman liar. Tidak ada drainase yang baik di kota Sorong.

  “Drainase di kota Sorong itu jadi kolam kangkung dan tempat pembuangan sampah. Drainase yang baik di kota Sorong hanya di depan kantor Walikota Sorong dan hanya beberapa meter,”ujarnya.

  Kelly menghimbau kepada warga kota Sorong untuk mem­perhatikan rumah mereka diling­kungan dan menjaga lingku­ngannya, karena selama ini kita ada masalah dulu baru cari solusi. 

  Kemudian lanjutnya, kepada Sopir – sopir truk pengangkut material yang menggunakan jalan hutan lindung agar mencari akses lain, karena hal itu menganggu ekosistem dan system hidrologi yang menyebabkan banjir. Kawasan tersebut sudah dibongkar dan banjir yang terjadi di Km 12 hingga Km 8 adalah air dari hutan lindung.

  Bentuk komunitas untuk bagaimana menanganai permasalahan sampah dan menjaga lingkungannya seperti Jumat bersih. Yang terjadi di km 14 juga itu karena kawasan wisata atau hutan lindung digunakan sebagai akses truk mengangkut material.

  Sementara itu, ancaman banjir dan bencana longsor terus menghantui warga Kota Sorong dan sekitarnya. Dua bencana ini nampaknya menjadi penyakit tahunan yang sampai saat ini terus menuai sorotan publik. Hampir seantero kota Sorong dikepung banjir. Beberapa kawasan yang terkena dampak banjir cukup parah adalah daerah Perumnas, Kampung Pisang apabila Kali Remu meluap, Kampung Salak,  kompleks Pasar Baru, Km 7 hingga Km 14 dan beberapa tempat lainnya.

   Sedangkan bencana longsor yang mengancam pemukiman warga di sisi utara Kota Sorong mulai dari Malanu Kampung, Waterpom, kompleks Taman Makam Pahlawan, belakan Yohan, belakang RRI, Sorpus, sampai Puncak Rafidin. 

Julian Kelly Kambu mengajak masyarakat agar waspada, supaya bisa menghindar ke tempat yang lebih aman,  terutama warga masyarakat yang pemukimannya berada dibawah kaki gunung harus menghindar demi kenyamanan keselamatan keluarga.

Penegasan ini disam­paikan­nya, karena berkaca dari pe­nga­laman-pengalaman lalu, ada nyawa yang melayang akibat ketidakwaspadaan terha­dap ancaman bencana longsor. “Kita tidak tahu bencana itu kapan datang, dan kita juga tidak ingin ada bencana banjir atau longsor. Yang terpenting adalah kita saling mengingatkan karena saat ini kita masuki musim hujan,” jelasnya kepada Radar Sorong kemarin. (zia/ris)


Kategori : Berita Utama

Komentar